Rabu, 22 Juni 2011

PATOLOGI

PATOLOGI


Patologi ialah ilmu yang mempelajari tentang penyakit.
Patologi dibagi dalam 3 macam ilmu : PATOLOGI ANATOMI, PATOLOGI KLINIK, dan PATOLOGI FORENSIK.
Patologi Anatomi mempelajari berbagai penyakit melalui sel dan jaringan tubuh, serta melihat langsung keadaan organ yang sakit, misalnya melihat dan memeriksa secara langsung adanya tumor dan menentukan jenis tumor tersebut. Biasanya ini berhubungan erat dengan bagian bedah.
Patologi Klinik mempelajari penyakit baik mendiagnosa maupun evaluasi pengobatannya melalui pemeriksaan berbagai cairan tubuh seperti misalnya : darah, urine, faeces dsb. Dalam hal ini kita banyak berhubungan dengan laboratorium.
Patologi Forensik mempelajari tentang jenazah, baik mengenai cara, waktu dan sebab kematian, maupun hal-hal lain yang berhubungan dengan masalah criminal. Dalam hal ini banyak sekali berhubungan dengan kedokteran kehakiman.
Dalam kuliah ini akan dibahas lebih mendalam mengenai PATOLOGI KLINIK
PATOLOGI KLINIK pada dasarnya meliputi 4 macam kegiatan :
1. HEMATOLOGI : Mempelajari / memeriksa tentang sel-sel darah, baik mengenai jumlah maupun bentuknya, serta mekanisme pembekuan darah
2. KIMIA KLINIK : mempelajari / memeriksa tentang kimia yang ada dalam darah misalnya : gula darah, kolesterol darah, asam urat dsb.
3. IMMUNOLOGO KLINIK : mempelajari / memeriksa tentang reaksi antigen antibody yang ada dalam darah
4. MIKROBIOLOGI KLINIK : mempelajari / memeriksa tentang mikrobiologi seperti kuman jamur, virus, dan parasit yang ada dalam darah
LABORATORIUM :
Untuk mendapatkan hasil laboratorium yang ideal, maka ada beberapa tahapan yang harus kita lalui yaitu : TAHAP PRA ANALITIK, TAHAP ANALITIK, DAN TAHAP POST ANALITIK.
TAHAP PRA ANALITIK :
Tahap ini dimulai dari adanya permintaan akan pemeriksaan laboratorium hingga sample yang akan diperiksa memasuki laboratorium.
Dalam tahap ini diperlukan kerjasama dengan petugas medis yang lain yang berada di luar laboratorium seperti perawat ruangan.
Tahap ini meliputi 2 aspek yaitu : PERSIAPAN PENDERITA, dan PENGAMBILAN SAMPEL .
Persiapan penderita misalnya : puasa, obat –obat yang harus dan tidak boleh diminum, serta persiapan – persiapan khusus lainnya jika ada.
Pengambilan sample yang akan kita bahas dalam kuliah ini meliputi sample darah, urine, faeces, sputum dan secret vagina dan ureta. Sedangkan untuk pengambilan sample cairan tubuh yang lainnya, bisanya dilakukan sendiri oleh para dokter spesialisnya masing-masing. Seperti cairan bronkus, cairan lambung, cairan otak, dsb.
TAHAP ANALITIK :
Tahap ini dimulai dari datangnya sample ke laboratorium kemudian diproses dan dilakukan pemeriksaan sampai mengeluarkan hasil. Tahap ini selalu menjadi perhatian dan memerlukan biaya yang mahal. Terutama dengan adanya upaya otomatisasi peralatan yang ada. Dalam tahap ini termasuk kalibrasi alat, penggunaan larutan control, larutan standard dan dilakukannya quality control baik eksternal maupun internal.
TAHAP POST ANALITIK :
Tahap ini meliputi pelaporan hasil dari alat kedalam lembaran hasil, dan interprestasi hasil oleh dokter yang berwenang
DARAH :
Pengambilan sample darah dapat dilakukan :
1. Bila volume darah yang dibutuhkan kurang dari 0,5 cc maka pengambilan dilakukan pada darah kapiler,yaitu dengan melakukan penusukan pada : ujung jari tangan ke 2,3 dan 4, atau pada cuping telinga dengan memakai lancet steril yang disposable (sekali-pakai)
2. Bila volume darah yang dibutuhkan lebih dari 0,5 cc, maka pengambilan dilakkan dari darah vena yangd ekat dengan kulit. Setelah dilakukan pembendungan pada lengan sebelah atas, kemudian dilakukan proses disinfeksi pada daerah lipatan siku di bawah bendungan selanjutnya darah diambil dari vena yang ada di daerah tersebut. Apabila penderita dalam keadaan terinfus, pengambilan darah dilakukan pada lengan yang kontra lateral.
Jumlah volume darah yang dapat diambil pada bayi / anak adalah :
Volume darah bayi/anak berkisar lebih kurang 70 cc/kg BB, dan pengambilan maksimum adalah 5 % dari vol darah yang ada.
Misalnya bayi dengan berat badan 10 kilogram, maka perkiraan volume darahnya : 700cc, maka pengambilan maksimum yang dapat dilakukan adalah 35 cc
ANTIKOAGULANT :
Untuk mencegah supaya darah tidak membeku dapat diberikan anticoagulant pada sample darah yang kita ambil.
Macam anticoagulant yang paling sering kita jumpai adalah :
1. Na EDTA :
Biasanya dipakai apabila akan dilakukan pemeriksaan darah lengkap. Inipun sebaiknya tidak lebih dari 2 jam setelah pengambilan, supaya sel darah tidak berubah bentuk. Perbandingan pemberian anticoagulant adalah : Img Na EDTA untuk 1 cc darah.
2. Na F :
Biasanya anticoagulant jenis ini dipakai untuk mengawetkan kadar glukosa darah
3. Heparin :
Dipakai bila darah yang diambil akan dilakukan pemeriksaan Gas Darah atau Hematokrit ( HCT atau PCV ).
4. Na Sitras 3,8 % :
Biasanya dipakai untuk pemeriksaan faal hemostasis ( faal koagulasi ), dan pembuatan plasma darah. Perbandingannya ialah : 1 volume Sitras dicampur 9 vol darah.
Darah setelah diambil kemudian ditampung dalam tempat yang bersih, kering, dan jangan lupa diberi label tentang nama, nomer register, dan pemeriksaan yang diminta.
Pengiriman ke laboratorium bila memerlukan waktu lama hendaknya diberi es batu untuk pendinginan.

URINE :
Urine sesaat :
Urine yang ditampung sewaktu – waktu tanpa ada persiapan apapun misalnya pada
pemeriksaan narkoba
Urine Pagi :
Urine yang ditampung pada pagi hari ketika penderita kencing untuk yang pertama kalinya. Biasanya penderita tidur sekitar pukul 10 malam setelah meminum segelas air putih, kemudian besok pagi ketika bangun kencing sekitar pk 4 pagi urine ditampung
Urine Porsi Tengah ( Midstream Urine ) :
Setelah lubang sekitar kemaluan dibersihkan, penderita disuruh kencing , tahan sebentar dan selanjutnya kencing lagi dan ditampung sedikit, Kemudian sebelum berhenti kencing yang penghabisan dibuang jangan ikut ditampung.
Urine 24 Jam :
Penderita kita tampung urinenya selama 24 jam. Misalnya mulai hari ini jam 7 pagi penderita disirih kencing kemudian dibuang , setelah itu setiap dia kencing ditampung hingga besoknya pukul 7 pagi, dan saat itu penderita disuruh kencing lagi dan ikut ditampung. Jangan lupa memberi pengawet yaitu asam borat, atau dimasukkan lemari es.
Tempat penampungan urine harus bersih dan kering. Jangan lupa memberi label tentang nama penderita, nomer register, dan pemeriksaan yang dikehendaki. Bila hendak dilakukan kultur harus ditampung dalam wadah yang steril.
TINJA :
Ambil sebesar ujung ibu jari dan ambil pada bagian tengah/ mencurigakan , dan ditampung dalam wadah yang bermulut lebar, bertutup uliran, bersih, dan kering. Jangan lupa memberikan label tentang nama pasien, nomer register, tanggal pengambilan, dan jenis pemeriksaan yang dikehendaki.
Tinja yang diambil jangan dibungkus dengan kertas tissue dan penderita jangan diberi obat urus-urus. Kalau tidak bisa buang air besar diapakan ????????????????????????

SPUTUM :
Wadah penampungan : bermulut lebar, bersih, kering dan berlabel. Steril ???
Cara penampungan : penderita kumur, kemudian berdiri/duduk condong kedepan
dan tarik nafas dalam kemudian batuk yang kuat. Bila perlu
rangsang batang tenggorok dengan lidi kapas. Tampung
sebanyak 3-5 cc.
Setelah ditampung buat sediaan : Oose pijar didinginkan , kemudian ambil bagian yang
dicurigai, dan dioleskan dengan rata-rata pada obyek glass
sebesar lebih kurang 2-3 cm.
Keringkan pada suhu kamar, kemudian difiksasi dengan
cara melewatkan 3 kali, setiap kali 3-5 detik diatas api
pengecatan secara ZIEHL NIELSON, kemudian kirim
dalam kotak es.
SEKRET URETHA / VAGINA :
Persiapan Penderita :
# Berhenti minum obat H – 1
# Dilakukan pada pagi hari sebelum kencing
# Untuk wanita dilakukan sebelum atau setelah haid
URETHA : Bersihkan lubang kemaluan dengan lidi kapas yang dibasahi saline, Urut penis
dari pangkal ke ujung, sekret yang keluar dioleskan pada obyek glass kemudian
diratakan dengan oose
VAGINA : Dalam posisi gynaecologis, speculum dibuka, dan diambil dengan lidi kapas
pada daerah endocervix, kemudian dioleskan pada obyek glass.
Fiksasi : lewatkan diatas apis elama 3-5 detik, diulang 3 kali
Kemudian dicat dengan Gram dan dikirim ke laboratorium
Kuman Gonorrhea : Berbentuk biji kopi, warna merah, terdapat pada intra/ekstra sel

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar