Rabu, 22 Juni 2011

KESEIMBANGAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT

KESEIMBANGAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT
Volume air dalam tubu manusia mencapai sekitar 60% dari berat badannya, dan terbagi menjadi:
1. CAIRAN INTRA SELLULAIR : merupakan cairan yang berada di dalam sel tubu manusia dan volumenya mencapai sekitar 40% berat badan manusia.
2. CAIRAN EXTRA SELLULAIR : merupakan cairan yang berada di luar sel tubuh manusia dan volumenya mencapai sekitar 20% berat badan manusia.
Cairan extraselulair ini terbagi lagi menjadi CAIRAN INTERSTITIAL yang merupakan cairan yang terletak diantara sel-sel tubuh manusia dan mencapai sekitar 15% dari berat badan , dan CAIRAN PLASMA yang merupakan cairan yang terletak dalam pembulu darah dan mencapai sekitar % berat badan manusia.
Misalkan pada seseorang dengan berat badan 70 kilogram, maka volume cairan total dalam tubuhnya adalah 60% x 70 kg = 42 liter, yang terbagi menjadi: CAIRAN INTRA SELLULAIIR : 28 liter, CAIRAN INTERSTITIAL : 10,5 liter, dan CAIRAN PLASMA : 3,5 liter.
Antara cairan intrasellulair dan cairan exstra sellulair dibatasi oleh dinding sel atau memban sel, sedangkan antara cairan intra vaskulair dan cairan interstitial di batasi oleh dinding pembuluh darah.
Membran sel berbeda dengan pembulu darah, di mana membran sel bersifat semi permeable rehadap solute terutama yang larut dalam air (glukosa, elektrolit) sedangkan dinding pembuluh darah permeable terhadap elektrolit dan glukosa, tetapi relaive impermeable terhadap protein.
Protein disini dapat menarik caian interstitial masuk ke dalam cairan intra vaskulair (plasma), sedangkan tekanan yang di timbulkan oleh protein dalam plasma disebut tekanan ontokotik plasma.

Keseimbangan cairan dalam tubuh terjadi apabila jumlah cairan yang masuk ke dalam tubuh, sama dengan jumlah cairan yang di keluarkan oleh tubuh.
Pemasukan cairan kedalam tubuh berasal dari : makanan, minuman dan hasil oksidasi bahan makanan.
Pengeluaran cairan keluar tubuh melalui : urine, kulit, paru dan tinja. Pengeluaran yang lewat kulit, paru dan tinja dikenal pula sebagai INSENSIBLE LOSS. (pengeluaran yang tak tampak).Volume cairan yang masuk dan keluar tubuh adalah sebagai berikut:


PEMASUKAN
Makanan 1000 cc
Minuman 1300 cc
Metabolisme 300 cc
JUMLAH 2600 cc


PENGELUARAN
Urin e 1500 cc
Tinja 200 cc
Pru 300 cc
Kuit 600 cc
JUMLAH 2600 cc

Pengeluaran kesimbangancairan dalam tubuh manusia dilakukan oleh:
1. Ginjal dan paru
2. Hormon : misalnya: ADH, Aldosteron, dsb
3. Rasa Haus
RASA HAUS
Definisi rasa haus adaa : keinginan secara sadar terhadap air.
Pusat rasa haus terletak di hypotalamus dan sensitiv terhadap adanya perubahan osmolalitas cairan ekstra sellulair.
Bila terjadi peningkatan osmolalitas plasma, berarti tubuh mengalami dehidrasi yang kemudian akan merangsng pusat rasa haus melalui mekanisme sebagai berukut:
1. Terjadi penurunan perfusi ginjal, sehingga akan merangsang pelepasan renin yang akan menimbulkan produksii angiotensin II.
Angiotensin II akan merangsang hyotalamus untuk selanjutnya unuk selanjutnya merangsang sensasi
2. Osmoreceptor yang ada di hipotalamus akan mendeteksi adanya peningkatan tekanan osmotik dan akan mengaktivkan jaringan syaraf yang menimbulkan rasa haus.
3. Rasa haus dapat pula di rangsang oleh adanya kekeringan local pada mulut sehingga timbul rasa haus.

HORMON ADH (ANTIK DIURETIK HORMON)
Hormon ADH di bentuk di hipotalamus dan disimpan didalam neurohipofisis posterior. Hormon ini akan meningkatkan reabsorbsi air pada duktus koligentes ginjal, sehingga mempetahankan cairan ekstra sellulair.
Adanya peningkatan osmolalitas, penurunan cairan ekstra sellulair, stres, trauma, pembedahan, nyeri, dan permberian beberapa macam obat2an akan merangsang produksi hormon ADH ini.
Hormon ADH ini disebut juga sebagai VASOPRESIN karena mempunyai efek sebagai vasokontriktor minor pada arteri kecil yang mengakibatkan peningkatan tekanan darah.
Penurunan kadar hormon ADH akan menimbulkan diabetes insipidus yang ditandai dengan peningkatan produksi urine, sedangkan peningkatansekresi hormone ADH akan mengakibatkan penurunan urine dan peningkatan volume darah.


HORMON ALDOSTERON
Hormon ini disekresi oleh kelenjar adrenal dan bekerja pada tubulus ginjal untuk meningkatkan absorbsi natrium. Retensi natrium ini akan mengakibatkan retensi air. Pengeluaran hormon aldosteron diatur oleh konsentrasi kalium dan sangat berguna dalam mengendalikan hyperkalemia.

Manfaat cairan dalam tubuh manusia adalah:
1. Dipakai pada proses metabolisme bahan makanan.
2. Berguna sebagai alat pengangkut ibah yang kemudian sekresi keluar tubuh melalui urine.
3. Sebagai bantalan atau pelindung kulit
Gangguan yang terjadi pada keseimbangan cairan dalam tubuh dapat berupa:
1 Edema
2 Congestion. (bendungan cairan)
3 Haemorrhage (perdarahan)
4 Shock
5 Trombosis, Emboli, dan Infarction.
EDEMA.
Edema adalah terkumpulnya sejumlah cairan yang abnormal pada jaringan intersellulair atau rongga tubuh. Halini dapat terjadi secara local atau di seluruh tubuh tergantung pada penyebabnya. Bila edema itu berat dan terjadi hampir di seluruh tubuh disebuit: ANAKARSA, yang biasanya disertai dengan adanya pembengkakan dari jaringan subkutan (dibawah kulit). Cairan yang terkumpul dirongga tubuh biasanya diberinama sesuai dengan lokasinya seperti misaknya : HYDRO THORAX, HYDROPERIKARDIUM, HYDROPERITONIUM (ASITES), dan sebagainya. Penyebab terjadinya edema adalah :
1 Peningkatan osmotik koloid
2 Peningkatan tekanan hidrostatik kapiler
3 Peningkatan permeabilitas kapiler
4 Obstruksi limfatik
5 Kelebihan natrium dan air dalam tubuh
PENINGKATAN OSMOTIK KOLOID
Berkurangnya kadar protein atau albumin di dalam plasma akan berakibat pada penurunan tekanan osmotic dalam plasma, sehingga cairan dalam plasma akan menembus dinding pembuluh darah dan masuk ke dalam jaringan sekitarnya. Karena cairan plasma banyak yang keluar ke jaringan maka volume plasma akan menurun, hal ini akan menyebabkan pengaktifan sistem aldosteron renin-angiotensin, sehingga volume plasma kembali meningkat. Tetapi karena kadar protein yang tetap rendah, maka cairan tersebut akhirnya akan menuju ke jaringan juga sehingga lebih memper parah edema yang sudah ada.
Penurunan kadar protein ini dapat di sebabkan oleh : malnutrisi, kegagalan fungsi hati, serta kehilangan protein dari dalam tubuh melalui luka bakar, kebocoran ginjal, dan saluran gastro intestinal,
Untuk mengatasi hal ini perlu di lakukan peningkatan protein plasma dengan pemberian infuse albumin dan menghilangkan kausal penyebabnya.
PENINGKATAN TEKANAN HIDROSTATIK KAPILER:
Peningkatan tekanan hidrostatik kapiler dapat disebabkan oleh: gagal jantung kanan dan kiri, gagal ginjal, kerusakan siklasi pembuluh darah vena, dan obstrusi liver.
Gagal jantun akan mengakibatkan peningkatan tekanan hidrostatik yang disertai penambahan volume plasma sehingga berakibat menumpuknya cairan didalam jaringan atau rongga badan.
PENINGKATAN PERMEABELITAS KAPILER:
Peningkatan permeabilitas kapiler dapat disebabkan oleh kerusakan langsung dinding pembuluh darah yang diakibatkan oleh trauma dan luka bakar.
Inflamasi/keradangan menyebabkan hyperemia dan vasodilatasi yang pada akhirnya menyababkan penumpukan cairan pada jaringan (edema)
OBSTRUSI LIMFATIK :
Penyebab utama terjadinya obsruksi limfatik adalah: pengangkatan kelenjar imfe (limfonodulus) dan pembuluh dara sekitarnya melalui suatu operasi untuk mencegah terjadinya metastase (penyebabnya) suatu keganasan.
Penyebab lainya: terapi radiasi, trauma, metastasis keganasan, radang, dan infeksi filiarisis.
KELEBIHAN NATRIUM DAN AIR DALAM TUBUH:
Kelebihan natium dan air akan meningkatkan tekanan hidrostatik pembuluh darah kapiler dan meningkatkan volume plasma, sehingga cairan akan keluar menuju jaringan.
Dikenal dua macam edema:
1 Pitting edema
Apabila edma ditekan akan menimbulkan cekungan dan setelah tekanan dilepas masihdiperlukan waktu beberapa saat untuk menghilangkan cekungan tesebut.
Edema jenis ini sering tampak pada tungkai dn sekitar sacrum.
2 Non pitting edema
Biasanya edema jenis ini terjadi pada lipatan kulit yang longgar sperti:
Periorbital (sekitar mata) dan biasanya disebabkan oleh trombosis pembuluh darah vena, khususnya pembuluh darah vena yang letaknya superfisial (dipermukaan)
Edema yang berlangsung lama akan mengakibatkan perubahan trofik pada kulit yang pada akhirnya akan berakibat dermatitis sampai timbul ulkus yang sangat sulit sembuh.
Lokasi terjadinya edema dapat memberikan petunjuk tentang penyebab edema tersebut, misalnya:
1 E dema yang terjadi pada satu tungkai biasanya karena obstruksi vena atau obstruksi kelenjar limfe.
2 Edema yang terjadi karena lipoprotein biasanya bersifat sistemik, dan yang paling nyata kelihatan adalah pada daerah kelopak mata pada pagi hari
3 Edema karena gagal jantung biasanya jelas pada kedua tungkai dan cenderung menyebar keseluruh tubuh.
SYOCK.
Syock adalah gangguan hemodinamik dan metabolik yang disebabkan oleh aliran darah yang tidak adekuat, sehingga pengiriman oksigen ke kepala dan jaringan ubuh menurun. Gejala syock adalah: hipotensi, takhikardi, oligouri, kulit mmenjadi lembab, gelisahdan perubahan tingkat kesadaran.
Penyebab syock adalah: perdarahan, gagal jantung, dan kerusakan neurologist.
Pembagian syock sesuai peyebabnya adalah:
1 Syock hipovolemik
2 Syock kardiogenik
3 Syock distributif/neurogenik
SYOCK HYPOVOLEMIK
Syock hypovolemik ini biasanya disebabkan oleh kehilangan cairan sirkulasi, baik berupa darah, plasma, atau pun air dari dalam tubuh.
Penurunan volume cairan tubuh akan mengakibatkan penurunan aliran darah vena yang kembali kejantung (venous return), dan akhirnya akan menurunkan tekanan darah.
Apabila deficit cairan tersebut dapat segera diatasi, maka keadaan syock dapat diatasi maka penderita akan jatuh kedalam keadaan yang irreversible.
Syock hypovolemik ini dibedakan lagi mebnjadi:
A S yock Hemorrhagic:
Syock yang disebabkan oleh adanya perdaraha yang massif yang biasanya diakibatkan oleh: perdarahan gastro intetinal, perdarahan pasca operasi, hamofilia, persalinan, dan trauma.
Kehilangan darah yang tidak melebihi 10% volume darah total tidak menimbulkan perubahan yang nyata pada tekanan darah dan cardiac out put, sedangkan kehilangan darah sehingga 45% volume darah total akan menurunkan cardiac out put dan volume darah total akan menurunkan cardiac out put dan tekanan darah sampai nol.
B S yock dehidrasi
Dehidrasi yang terjadi disebabkan oleh kehilangan cairan tubuh yang cukup berat dan biasanya disebabkan oleh: keringat yang bekebihan, diarhea, muntah, diabetes insippidus, asites, fase diuretik pada gagal ginjal akut, diabetic ketoacidosis, addison iseases, hypoaldosteronism, pemberian diuretic, dan sebagainya
C Syock karna luka bakar
Pada luka bakar yang luas derajat tiga, kehilangan plasma cukup banyak sehingga menurunkan tekanan osmotic.
Penurunan tekanan osmotik menyebabkan cairan keluar ke jaringan, sehingga cairan dalam plasma menurun dan berakibat penurunan aliran darah balik ke jantung, sehingga cardiac out put menurun dan akhirnya tekanan darah juga menurun. Syock pada luka bakar ini dapat pula disbabkan oleh sepsis.
D Syock karena trauma
Trauma luka tembak pada organ organ tubuh dapat menimbulkan yang kadang kadang tidak tampak, sehingga menimbulkan syock.
SYOCK KARDIOGENIK
Dua penyebab utama syock kardiogenik adalah
A Cardiac Failure (gagal jantung)
Ketidak mampuan jantung untuk berkontraksi secaraefektif. Biasanya hal ini disebabkan oleh:
Infark miokart yang luas, myokardiopati, keracunan obat, dan disritmia (gangguan arithmia)
B P enurunan arus venous return ke jantung
Hal ini biasanya disebabkan oleh: tamponade jantung, efusi perikardial akut, pergeseran mediastinum yang menekan jantung sehingga aliran darah balik vena terganggu. Penurunan aliran balik akan menurunkan cardiac output sehingga tekanan dan aliran darah menurun, terjadiah syock.
SYOCK DISTRIBUTIF:
Syock jenis ini disebabkan oleh vasodilatasi yang massif dan hebat, sehingga tekanan darah akan menurun. Dalam hal ini jumlah darah/cairan tubuh tidak berkurang, hanya distributifnya yang terganggu karena adanya vasodilatasi yang massif tersebut.
Macam macam syock distributive :
Syock Neurogenik
Hilangnya tonus vasomotor sehingga terjadi dilatasi vena dan arteriole.
Syock Septik
Kuman gram negative akan mengeluarakan endotoksin yang luas dan mengakibatkan dilatasi pembuluh darah.
Syock Anafilaktik
Biasanya terjadi karena reaksi antigen antibody yang sering terjadi pada pemberian obat obatan, media kontras, dan bisa ular.
TAHAPAN DALAM SYOCK
Terdapat tiga tahapan dalam syock dengan nama yang berbeda beda menurut versi penulis Ada yang menyebut dengan :
Awal, progresif, dan akhir.
Non progresif, progresif, dan irreversible
Dini, hypoperfusi jaringan, dan cedera sel dan organ.
Terkompensasi, dekompensasi dan irreversible.
TAHAP I
Pada tahap ini terjadi penurunan cardiac out put dan tahanan prifer sebagai akibat cedera awal.
Penurunan tersebut berakibat penurunan tegangan pada dinding arteri mayor yang pada akhirnya meransang baro receptor untuk selanjutnya mengaktifasi sistem syaraf otonom.
Gejala yang timbul:
Penderita masih sadar, kadang kadang ada kecemasan.
Frekuensi denyut jantung meningkat
Tekanan darah menurun atau normal
Kulit pucat, lembab dan dingin
Pupil dilatasi karena rangsangan syaraf simpatis
Kadar hematokrit menurun bila terjadi perdarahan
Nafas dangkal, tapi frekuensinya meningkat sebagai respon kekurangan oksigen pada jaringan.
Produksi urine menurun, penderita merasa haus.
Bising usus menurun karena aliran darah ke usus menurun
Otot melemah
Apabila tahap ini dapat diatasi, maka tekanan darah dan kesemuanyaakan kembali normal, tetapi bila tidak teratasi maka akan masuk kedalam tahap selanjutnya
TAHAP II
Pada tahap ini respon kompensasi yang dilakukan tubuh gagal untuk memperbaiki tekanan darah dan perfusi jaringan.
Organ organ tubuh akan mengalami kekurangan oksigen (ischemia) ,dan yang paling awal adalah terjadinya penurunan fungsi ginjal yang berupa penurunan Glomerural Filtrasion Rate (GFR)
Organ penting lain yang terkena adalah otak dan jantung, kemudian paru, hati, dan saluran gastrointestinal.
Gejala gejala yang timbul adalah akibat penurunan perfusi organ organ tersebut diatas, yaitu berupa:
Kesadaran dan orientasi mulai menurun
Bradikardi dan hipotensi
Produksi urine berhentik ileus
Edema perier, edema paru dan takhipnia (frekwensi nafas meningkat)
Abdomen distensi dan paralitik
Penderita tampak sakit berat
Kulit dingin, pucat.
Ph darah menjadi asam karena penum pukkan asam laktat
Apabila terapi yang diberikan pada stadium ini gagal, maka penderita akan memasuki stadium II
TAHAP III
Pada tahap ini penderita menjadi tidak responsive, cardiac out put menurun, tekanan darah menurun progresif, dan asidosis metabolic makin meningkat. Terjadi kematian pada sel karena ischemia, dan manifestasinya berupa disfungsi ginjal, paru dan otak, Kegagalan pada ginjal dan jantung berjalan progresif, penderita akan mengalami kesulitan bernafas sampai koma.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar