Rabu, 22 Juni 2011

KESEIMBANGAN ASAM DAN BASA

KESEIMBANGAN ASAM DAN BASA

Dalam keadaan normal derajat keasaman (Ph) tubuhnkita adalah 7,4 (range:7,35-7,45). Bia kurang dari 7,35 disebut asidosis, dan bila diatas 7,45 disebut alkolasis. Gangguan yang terjadi pda derajat keasaman ini akan mengganggu pula system enzyme, hormone, asam sulfa, asam fosfat, dan asam yang lain, yang kesemuanya ini akan dibuang keluar tubuh melalui organ organ eksretori seperti paru paru dan ginjal sehingga tidak mengganggu derajat keasaman tubuh. Keseimbangan asam basa dalam tubuh ini menyangkut gas CO2, asam asam non karbonat dan basa.
Asam adalah senyawa yang dapat memberikan ion H+ (proton donor),sedangkan basa adalah senyawa yang dapat menerima ion H+ (proton akseptor). Terdapat dua macam kelompok asam yang penting dalam cairan tubuh yaitu: # Asam karbonat (H2CO3) atau asam volatile. # Asam yang non karbonat atau asam non volatile. Misalnya:asam fosfat, asam sulfat, dsb.
Salah satu hasil akhir dari metabolism karbohidrat dan lemak adalah gas CO2, dan ini merupakan asam karena bila bergabung dengan air akan membentuk asam karbonat. (CO2 + HO2 ← → H2CO3 ← →H+ + HCO3), yang mudah terurai menjadi HCO3- dan ion H+. Jadi jika gas CO2 yang dihasilkan tidak dapat dikeluarkan, maka mnejadi penimbunan asam dalam tubuh. Asam yang bukan kelompok asam karbonat biasanya merupakan hasil akhir dari metabolisme protein, dan asam ini akan disekresi lewat ginjal. Kelompok asam karbonat dikenal pula sebagai kelompok asam volatile yang dapat disekresikan keluar tubuh sebagai gas CO2 melalui paru paru , sedangkan kelompok asam yang bukan asam karbonat disebut pula kelompok asam non volatile atau fixed acid dan harus dikeluarkan lewat ginjal.
Adapun pengaturan keseimbangan derajat keasaman tubuh dilakukan melalui tiga mekanisme yaitu: 1. System buffer. 2. Pembuangan gas CO2 melalui paru paru / pernafasan. 3. Pembuangan ion H+ lewat ginjal.
SYSTEM BUFFER.
Buffer atau larutan penyangga adalah larutan senyawa kimia yang mampu bertahan pada kadar ion H+ ( atau pH ) yang tetap, sekalipun ditambah dengan asam atau basa yang kuat. Larutan ini terdiri dari asam lemah dan sisa asamnya. Dalam menstabilkan pH darah ini buffer bekerjanya cepat tetapi kurang effektif bila gangguan yang terjadi cukup besar. Buffer yang terutama didalam tubuh kita adalah:
1. Penyangga / buffer BIKARBONAT:
Merupakan penyangga paling utama pada cairan extra sellulair dan terdiri dari asam karbonat ( H2CO3 ) dan larutan bikarbonat ( HCO3-). Penyangga bikarbonat ini merupakan penyangga paling penting karena dapat diatur oleh ginjal dan paru. Normal rasio asam karbonat dan bikarbonat adalah 1 : 20, dan pada keadaan ini pH tubuh adalah 7,4. Bila terjadi retensi CO2, maka sebagai kompensansi juga akan terjadi retensi HCO3-, sehingga perbandingan keduanya dan pH tubuh akan tetap. Paru paru dapat dengan cepat mengeluarkan atau menahan CO2, sedangkan ginjal berfungsi menahan dan mengeluarkan HCO3-.
2. Penyangga /buffer PROTEIN:
Merupakan penyangga untuk cairan intra selulair, dan merupakan penyangga yang paling banyak didalam tubuh. Buffer ini juga berpengaruh pada cairan ekstra sellulair karena ion H+, CO2, dan HCO3- dapat berdiffusi kedalam sel. Haemoglobin merupakan buffer protein yang effektif untuk meningkatkan CO2. CO2 yang diikat akan berdiffusi masuk kedalam sel darah merah dan membentuk H2CO3 yang kemudian akan terurai menjadi H+ dan HCO3-. HCO3- inilah yang diperlukan sebagai buffer dalam plasma.
3. Penyangga/buffer PHOSPHAT:
Dilakukan dalam ginjal , yaitu mengembalikan pH kenormal dengan cara meningkatkan atau menurunkan ion bikarbonat ( HCO3-) dalam cairan ekstra sellulair. Terdiri dari HPO4- yang akan meningkat ion H+ yang berlebihan sehingga menjadi H2PO4.
SYSTEM PARU / PERNAFASAN:
Merupakan penyangga yang paling effektif dan bekerjanya cepat, asalkan organ organ pernafasan dalam keadaan normal. Frekwensi pernafasan akan menentukan banyaknya gas CO2 yang dikeluarkan dari dalam tubuh. Frekwensi pernafasan diatur oleh : pusat nafas ( medulla oblongata ) dan chemoreceptor pada arteria carostis/aorta. Tekanan gas CO2 yang meningkat, pH darah yang menurun, dan tekanan gas O2 yang menurun akan merangsang dan meningkat pusat nafas. Bila terjadi peningkatan ion H+ dalam cairan tubuh ( pH tubuh menurun ) khususnya dalam arteri dan cairan cerebrospinal akan mengakibatkan peningkatan reflexs pada kecepatan dan kedalaman nafas. Hal ini bertujuan untuk membuat CO2 lebih banyak keluar dari tubuh sehingga kadar ion H+ akan menurun. Sebaliknya bila terjadi penurunan ion H+ akan menyebabkan penekanan pada aktivitas pernafasan sehingga kadar O2 tertumpuk didalam darah yang pada akhirnya akan meningkatkan kadar ion H+ dalam darah.
CO2 + H2O, ←→ H2CO3 ←→ H+ +HCO3-.
SYSTEM GINJAL:
Buffer ini kerjanya lambat an kurang efektif. Buffer ini bekerja dengan cara membuang ion H+ ( eksresi H+ ) dan menyimpan bikarbonat ( mereabsorbsi HCO3- ). Bila darah terlalu asam maka ginjal akan mengeksresi ion H+ keluar dari tubuh melalui urine, dan mereabsorbsi HCO3- ( bikarbonat ), sebaliknya bila darah terlalu alkalis, maka ginjal akan meningkatkan ekskresi bikarbonat ( ekskresi HCO3- ) lewat urine dan mereabsorbsi ion H+ dari urine sehingga ion H+ tertahan dalam tubuh.
Untuk menentukan status keseimbangan asam basa didalam tubuh perlu dilakukan pemeriksaan: pH darah, tekanan gas CO2 ( pCO2 ), dan kadar HCO3- dalam darah arteri. Dalam keadaan normal: pH darah : 7,35 – 7,45. p CO2 : 40mm Hg. HCO3- : 24 mmol/ltr
Sedangkan untuk menghitung derajat keasaman ( pH ) drah digunakan rumus: HENDERSO – HASSELBALCH yaitu:
pH = pK + log ( sisa asam ) / ( asam )
pH= 6,1 + log ( HCO3- ) / ( H2CO3 )
pH= 6,1 + log 24 / 0,03 X 40 = 7,4

ASIDOSIS:
Bila terjadi kadar ion H+ dalam darah diatas batas normal, atau penurunan kadar HCO3- dalam darah dibawah batas normal, sehingga pH tubuh menurun sampai 7,35 atau kurang dari 7,35, maka keadaan ini disebut ASIDOSIS. Hal ini dapat terjadi karena gangguan pada pernafasan ( respiratory asidosis ) atau gangguan metabolism ( metabolic asidosis ).
Respiratory Asidosis:
Biasanya disebabkan oleh kegagalan system pernafasan untuk membuang CO2 keluar dari tubuh.
Penyebab kegagalan system pernafasan adalah: # Penyakit obstruktif dan restriktif paru. # Gangguan pergerakan otot dinding thorax misalnya: polio # Penurunan aktifitas pusat nafas oleh karena : trauma otak, perdarahan,narkotika, anestesi, dan lain sebagainya. # Penyakit neuromuskulair misalnya: myasthenia gravis, syndrome Guillen Bare, dan lain sebagainya.
Metabolic Acidosis:
Pada prinsipnya keadaan ini disebabkan oleh penumpukan asam, sehingga pH darah menurun dibawah 7,35 atau kadar bikarbonat darah menurun hingga kurang dari 22 meq/ltr. Gejala yang timbul adalah: nafas yang dalam dan cepat, disorientasi, dan koma.
ALKALOSIS:
Bila terjadi penurunan kadar ion H+ dalam cairan tubuh atau terjadi kelebihan HCO3- dalam darah,sehingga pH darah meningkat diatas 7,45, maka keadaan ini disebut: ALKALOSIS. Hal ini dapat terjadi karena gangguan pada pernafasan (respiratory alkolasis) atau gangguan pada metabolism (metabolic alkolasis).
Respiratory Alkolasis:
Pada dasarnya hal ini disebabkan oleh adanya pengeluaran CO2 lewat paru yang begitu cepat sehingga tekanan CO2 dalam darah (pCO2) menurun dibawah 35mmHg dan pH darah mencapai 7,45.
Faktor yang menjadi penyebabnya: # Hyper ventilasi alveolair. # Ketinggian yang sangat tinggi. # Pernafasan yang berlebihan. # Ansietas. # Demam. # Meningitis. # Keracunan aspirin. # Pneumoni. # Emboli paru. # factor lain yang meningkatkan aktifitas nafas.
Metabolic Alkolasis:
Keadaan ini terjadi karena hilangnya ion H+ dari cairan tubuh atau terjadi penambahan basa pada cairan tubuh. Biasanya kadar HCO3- meningkat hingga 26meq/ltr, dan pH tubuh meningkat diatas 7,45. Penyebab tersering adalah: konsumsi basa yang berlebihan , misalnya : soda kue, antasida, yang sering digunakan untuk mengatasi ulkus lambung atau perut kambung. Gejala yang tampak : apatis, lemah, kekacuan mental, kram, pusing, parastesi, dan sakit kepala.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar