Rabu, 22 Juni 2011

KONSEP UMUM PENYAKIT

KONSEP UMUM PENYAKIT

KONSEP NORMAL
Definisi tentang normal sangatlah sulit untuk dirumuskan. Setiap parameter hasil suatu pengukuran mempunyai nilai rata-rata yang dianggap normal.
Besanya nilai normal ini untuk setiap inividu tidaklah sama. Perbedaan ini disebabkan oleh :
1. Susunan gen dan genetic setiap individu yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya.
2. Setiap individu memiliki pengalaman hidup yang saling berbeda yang disebabkan oleh interaksi dengan lingkungan di sekitarnya.
3. Adanya perbedaan pengendalian fungsi mekanisme dalam tubuh yang diseababkan oleh perbedaan makanan, minuman, aktifitas dan sebagainya.
Misalnya terjadi peningkatan tekanan darah pada seseorang karena suatu sebab, belum tentu hal ini dianggap sebagai hypertensi selama masih dalam rentang nilai normal. Demikian pula, misalnya terjadi peningkatan kadar glukosa dalam darah, tidak selalu dikatakan sebagai diabetes, selama masih berada dalam rentang nilai normal.

PENYAKIT
Penyakit dapat didefinisikan sebagai : perubahan dalam diri seseorang yang dapat menyebabkan perubahan pada parameter kesehatannya di luar rentang nilai normal.
Sedangkan yang dimaksud dengan ETIOLOGI adalah factor penyebab terjadinya penyakit seperti misalnya : kuman, umur, status gizi dan sebagainya.
PATOGENESIS merupakan proses perjalanan terjadinya penyakit.
Pada awal perkembangan suatu penyakit, mula-mula etiologi yang ada menyebabkan perubahan pada proses biologis dalam tubuh manusia, dan perubahan pada tahap ini hanya dapat dideteksi dengan melakukan pemeriksaan dalam laboratorium terhadap cairan tubuh (terjadi perubahan pada kimia darah).
Stadium inilah yang dikenal sebagai stadium SUBKLINIS, dimana pada stadium ini penderita masih tampak normal-normal saja, tetapi proses perjalanan penyakit sudah dimulai.
Struktur dan fungsi organ-organ dalam tubuh manusia mempunyai cadangan keamanan yang cuup besar, sehingga gangguan pada fungsi organ akan menjadi lebih jelas bila penyakit itu telah memberikan perubahan-perubahan secara anatomis. Sebagai contoh : penyakit ginjal kronik bila telah merusak satu ginjal dan sebagian ginjal yang satunya baru akan menimbulkan penurunan fungsi ginjal.
Beberapa penyakit ada yang dimulai dari gangguan fungsional terlebih dahulu sebelum timbul perubahan secara anatomis.
Gangguan-gangguan pada proses biologis ini akan memberikan gejala dan tanda-tanda suatu penyakit.
Gejala-gejala merupakan keluhan-keluhan yang dirasakan oleh penderita, misalnya rasa mual-mual, sedangkan yang dimaksudkan dengan tanda-tanda penyakit adalah perubahan yang terjadi pada tubuh manusia dan dapat dilihat dengan nyata, misalnya : demam, oedem dan sebagainya.
LESI : adalah perubahan struktur yang tampak baik secara makroskopis maupun secara mikroskopis yang ditimbulkan dalam perkembangan suatu penyakit.
SEQUELE : adalah akibat yang timbul dari suatu penyakit.
KOMPLIKASI : proses baru dan terpisah yang timbul sekunder karena beberapa perubahan dari keadaan yang aslinya.
RESOLISI : proses kembalinya tubuh kita ke keadaan yang normal tanpa sequel ataupun komplikasi,
Factor-faktor penyebab pada suatu penyakit pada umumnya dapat digolongkan menjadi factor ekstrinsik dan factor instrinsik.
Yang termasuk dalam factor ekstrinsik misalnya : kuman penyebab infeksi, trauma neukanis, bahan kimia beracun, radiasi, suhu yang ekstrem, gizi, stress psikologis dan sebagainya, sedangkan yang termasuk factor intrinsic misalnya : umur, jenis kelamin, kelainan-kelainan sebagai akibat penyakit sebelumnya, dan sebagainya.
Kedua factor ekstrinsik dan intrinsic ini selalu berinteraksi, sehingga timbul suatu spektrum yang luas dengan titik ekstrem pada kedua ujungnya, yaitu factor ekstrinsik di ujung yang satu, dan factor intrinsic di ujung yang lain.
Apabila factor intrinsic yang dominan maka disebut sebagai penyakit keturunan. Misalnya : trauma pada kecelakaan lalu lintas, disini yang dominan adalah factor ekstrinsik, tidak ada factor keturunan, sedangkan pada penyakit infeksi yang lebih dominan adalah factor ekstrinsik, tetapi pengaruh umur, daya tahan tubuh (factor intrinsic) tetap ada.
Akhir dari perjalanan suatu penyakit dapat berupa : memberikan kesembuhan dengan sendirinya dalam waktu yang singkat, atau menjadi kronis, atau menjadi sembuh tetapi kadanh-kadang memberikan kekambuhan secara berulang-ulang, atau bahkan berakibat kematian.

KLASIFIKASI PENYAKIT
Klasifikasi penyakit yang paling sering adalah berdasarkan pada pathogenesis atau mekanisme terjadinya penyakait, yaitu :
1. Penyakit congenital:
a. Genetic
b. Non genetic

2. Penyakit yang didapat :
a. Radang
b. Vaskulair
c. Gangguan pertumbuhan
d. Kerusakan dan perbaikan
e. Gangguan metabolism dan Degeneratif

1. PENYAKIT KONGENITAL
Penyakit ini dimulai sebelum lahir, tetapi sebagian baru memberikan gejala dan tanda-tanda klinis setelah individu yang terangkit menginjak dewasa.
Biasanya penyakit ini disebabkan oleh defek (kerusakan) genetic, baik yang diturunkan dari orang tuanya,maupun oleh karena mutasi genetic sebelum lahir atau factor luar yang mengganggu pertumbuhan dari embrio atau fetus.
Defek pada genetic misalnya : cyistik fibrosi, thallamesia, dan sebagainya, sedangkan defek non genetic misalnya : kelainan pada jantung sebagai akibat infeksi fetus pada ibu yang terkena rubella waktu hamil.

2. PENYAKIT YANG DIDAPAT (ACQUIRED) :
Penyakit ini biasanya disebabkan oleh factor lingkungan sekitar dan pembagiannya berdasarkan patogenesa nya adalah :
a. Penyakit Radang
Radang adalah respons fisiologis jaringan yang hidup terhadap adanya rangsangan yang merugikan.
Pemberian nama biasanya didasarkan pada organ yang terkena dan ditambah akhiran “it is”, misalnya : tonsillitis (tonsil), appendixitis (appendix), dermatitis (kulit) dsb.
Kadang-kadang ada pula pemberian nama yang menyimpang dari konsep tersebut, misalnya sifilis, tuberculosis, leprosy. Dsb.
Bentuk peradangan yang terjadi biasanya bermacam-macam tergantung pada : penyebab, respons tubuh dan target organ yang terkena.
b. Gangguan Vaskulair
Pnyakit ini disebabkan oleh karena gangguan aliran darah baik yang dari luar atau didalam organ tersebut.
Pengurangan aliran darah ini berakibat ISKHEMIA dan bial berlangsung lama akan terjadi kematian jaringa yang disebut INFRAK, misalnya : infrak miokard (serangan jantung), infark otak (stroke), gangguan pada tungkai, syok/kegagalan sirkulasi, dsb.
c. Gangguan pertumbuhan :
Penyakit ini disebabkan oleh pertumbuhan yang abnormal termasuk adaptasi terhadap perubahan pada lingkungan, isalnya : pembesaran jantung (hypertropi) karena tekanan darah yang tinggi, neoplasma (keganasan), leukemia, dsb.
d. Ruda paksa dan perbaikan :
Termasuk dalam kelompok ini adalah penyakit yang disebabkan oelh ruda paksa atau trauma. Kelainan yang terjadi tergantung pada sifat dan besarnya trauma tersebut dan respons tersebut. Perbaikan dari kelompok penyakit ini sangat tergantung pada usia, gizi, mobilitas, ada/tidaknya infeksi, dsb.
e. Gangguan metabolism dan Degeneratif
Sebagian kelompok penyakit ini ada yang merupakan kelainan congenital yang diturunkan melalui gen yang rusak dari kedua orang tuanya, seperti misalnya : diabetes mellitus, gout arthritis, dsb, dan dapat pula sebagai kelainan sekunder akibat penyakit lain seperti misalnya : hiperkalsemia, hipertiroid.

PENYAKIT LATROGENIK
Merupakan sekelompok penyakit yang disebabkan oleh tindakan medis untuk pengobatan. Yang paling sering adalah yang oleh efek samping atau reaksi obat.
Beberapa penyakit introgenik misalnya : hepatitis, AIDS yang disebabkan oleh transfusi, penyakit akibat radiasi pada terapi kanker, dsb.

SISTEM PEMBERIAN NAMA PAHDA PEMNYAKIT
1. Primer dan Sekunder
Tujuan dari pemberian nama primer dan sekunder pada penyakit adalah :
a. Menjelaskan penyebab dari suatu penyakit
Istilah primer biasanya diberikan untuk penyakit yang tidak diketahui penyebabnya secara jelas. Nama lain yang sering dipakai adalah : essensial, idiopathic, kriptogenik.
Hypertensi primer : artinya peningkatan tekanan darah yang tidak diketahui penyebabny. Sedangkan istilah sekunder biasanya dipakai untuk penyakit yang terjadi sebagai akibat komplikasi atau manifestasi beberapa lesi. Misalkan hypertensi sekunder artinya peningkatan tekanan darah sebagai akibat komplikasi dari penyakit lain misalnya arteristenosis dari ginjal
b. Membedakan stadium permulaan atau stadium lanjut dari suatu penyakit. Hal ini terutama penyakit kanker. Tumor primer artinya tumor yang mula, sedangkan tumor yang terjadi sebagai akibat penyebaran dari tumor primer disebut tumor skunder.
2. Akut dan Kronis
Tujuan dari pemberian istilah akut atau kronis adalah untuk menerangkan perkembangan suatu penyakit. Istilah akut berarti perjalanan penyakit cepat dan diikuti resolusi yang cepat (tidak selalu tetapi seringkali), sedangkan istilah kronis biasanya untuk proses penyakit yang agak tersembunyi dan berlangsung lama sampai bulan/tahunan. Istilah subakut biasanya dipakai untuk menilai proses karadangan,
3. Jinak dan Ganas
Istilah ini sering digunakan pada penyakit dengan kegnasan. Jinak (benign) biasanya digunakan, keganasan masih berada pada jaringan asal dan sangat jarang mematikan, kecuali bila mendesak. Organ-organ vital seperti misalnya : otak. Sedangkan istilah ganas (malignan) biasanya dipakai bila terjadi infiltrasi dan penyebaran dari tempat asal dan sering berakibat fatal.
Hypertensi benign berarti meningkatkan tekanan darah yang ringan dan berkembang perlahan – lahan serta bertahap. Sedangkan hypertensi maligna berarti peningkatan tekanan darah dengan cepat dan memberikan gejala serta kerusakan jaringan yang berat misalnya : perdarahan otak, gagal ginjal, serta mata kabur dan sebagainya.
4. Penambahan Awalan
Pemberian nama penyakit/kelainan dapat pula dilakukan dengan memberikan penambahan awalan, yang mempunyai arti tersendiri misalnya :
Ana…… : tidak ada / absen : Anaphilaksis
Dis……. : kelainan / penyimpangan : Displasia
Hyper… : diatas normal / berlebihan : Hyperthyroid, Hyperglikkemi
Hypo…. : dibawah normal : Hypothyroid, Hypoglikemia
Meta….. : perubahan bentuk : Metaplasia


5. Penambahan Akhiran
Pemberian nama penyakit/kelainan dapat pula dilakukan dengan memberikan penambahan awalan, yang mempunyai arti tersendiri misalnya :
…itis : keradangan : appendicitis, pleuritis, dsb.
…oma : tumor : karsinoma, hemangioma, dsb.
…osis : keadaan/ kondisi yang tidak selalu patologis : osteoartrosis
…oid : mirip sesuatu : rheumatoid (mirip rhematik)
…penia : tidak ada : leukophenia, trombositopenia, dsb.
…sitosis : peningkatan diatas normal : trombositosis, leukositosis
…ektasis : pembesaran/pelebaran : bronkhiektasis
…plasia : kelainan pertumbuhan : hyperplasia.
…opati : bentuk abnormal yang kehilangan karakteristiknya : lympadenopathi.
6. Nama Eponimosa
Pemberian nama pada penyakit/kelainan sesuai dengan nama orang yang menemukan, atau sesuai dengan penderita pertama atau juga sesuai dengan tempat tertentu. Misalnya : Penyakit Grave’s diseases, Hodgkin’s diseases, Crohn’s diseases, dsb.
7. Sindroma
Kumpulan dari tanda-tanda dan gejala atau suatu kombinasi suatu lesi. Biasanya dipakai nama eponimosa. Misalnya :
Syndroma Cushing : Obese, hirsutisme, hypertensi.
Syndroma Nephrotik : Albuminuri, Hypoalbuminemia, oedema
8. Sistem Koding Angka
System ini lebih berhubungan dengan epidemiologi. Biasanya setiap penyakit/kelainan akan diberi nomer sesuai dengan kesepakatan masing-masing.
Beberapa system pemberian nomer yang ada ialah :
ICO : International Clasifocation of Diseases.
WHO : World Health Organization.
SNOP : Systematized Nomenclature of Pathology.
SNOMED : Systematized Nomenclature of Medicine.
SNOP dan SNOMED ini biasanya dipakai USA
EPIDEMIOLOGI.
Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari sifat/karakteristik penyakit pada suatu populasi tertentu. Yang dipelajari biasanya :
INSIDENS RATE : Jumlah kasus baru suatu penyakit pada populasi dan periode tertentu.
PREVALENCE RATE : Jumlah penyakit pada populasi dan periode tertentu. (kasus baru dan kasus lama.
REMISSION RATE : Jumlah penyakit/kasus yang sembuh pada populasi dan periode tertentu
MORTALITY RATE : Jumlah kematian dari suatu penyakit pada populasi dan periode tertentu.
Manfaat dari epidemiologi ini adalah :
1. Memberi petunjuk kepada etiologi/penyebab dari penyakit tertentu
2. Membantu penyusunan rencana upaya pencegahan terhadap penyakit tertentu
3. Membantu penyediaan fasilitas medis yang cukup
4. Untuk program skrining kesehatan
Pada penyakit kronis biasanya didapatkan prevalensi penyakit yang tinggi, walaupun insidensnya rendah, sedangkan pada penyakit yang bersifat akut biasanya didapatkan insidens yang tinggi dengan prevalensi yang rendah. Hal ini disebabkan karena penyakit akut biasanya memberikan penyembuhan yang sempurna, misalnya : cacar air.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar