Rabu, 22 Juni 2011

KERADANGAN

KERADANGAN

Definisi : Keradangan adalah reaksi tubuh terhadap kerusakan jaringan yang terjadi pada daerah sekitar rangsangan.

Rangsangan pada jaringan tersebut dapat berupa : perubahan biokimiawi,perubahan fungsi jaringan / organ dan perubahan morphologi,yang semuanya itu dapat menimbulkan gejala klinis yang kita kenal dengan RADANG.

Cara pemberian nama pada daerah / organ yang mengalami keradangan adalah dengan menambahkan akhiran IT IS pada nama organ / daerah tersebut.
Misalnya : Keradangan pada hepar : Hepatitis
Keradangan pada jantung : Carditis
Keradangan pada otot : Myelositis, dsb.

Tanda – tanda local keradangan adalah :
1. COLOR : Panas
Hal ini disebabkan oleh adanya hyperemi local, pelebaran(dilatasi) pembuluh darah dan peningkatan metabolisme intra sellulair.

2. RUBOR : Merah
Hal ini disebabkan karena adanya vasodilatasi pembuluh darah dan hyperemi pembuluh darah.

3. TUMOR : Edema
Hal ini disebabkan oleh peningkatan jumlah darah pada daerah tersebut, disertai keluarnya cairan (eksudasi) dari intra vaskulair ke jaringan sekitarnya, dan terjadi peningkatan jumlah sel sel darah putih kejaringan.

4. DOLOR : Nyeri
Hal ini disebabkan oleh adanya tekanan mekanis pada ujung syaraf sensoris dan iritasi langsung ujung syaraf oleh mediator kimia, serta adanya kerusakan langsung pada ujung ujung syaraf.

5. FUNKTIOLAESA : Gangguan fungsi
Hal ini disebabkan oleh adanya tumor/benjolan dan rasa nyeri.

Perubahan perubahan yang terjadi pada suatu keradangan pada hakekatya meliputi perubahan pada factor VASKULAIR dan SELLULAIR.

Perubahan pada Vaskulair meliputi 2 hal yaitu : perubahan HAEMODINAMIKA dan perubahan pada PERMEABILITAS.

1. Perubahan Haemodinamika :
Perubahan yang terjadi disini disebabkan oleh adanya : Zat mediator kimiawi, dan factor neurogenik.
Perubahan yang terjadi meliputi :
# dilatasi arteriole
# meningkatnya aliran pembuluh darah.
# congesti pada pembuluh darah vena.
# terjadi stasis aliran darah.
# permeabilitas vaskulair yang meningkat, sehingga cairan akan kejaringan sekitarnya.
# peningkatan sel darah putih dalam kapiler yang selanjutnya bermigrasi ke jaringan sekitarnya.

2. Perubahan permeabilitas :
Perubahan permeabilitas ini mengakibatkan cairan dari pembuluh darah keluar ke jaringan sekitarnya dan terjadilah oedema.
Cairan yang keluar tersebut biasanya berupa transudat pada awalnya, dan kemudian menjadi exudat pada akhirnya.

Perbedaan transudat dan exudat adalah :
TRANSUDAT EXUDAT
1. Kadar protein : Rendah Tinggi
2. Berat jenis : <1,012 sekitar 1,018. 3. Kandungan : air,garam,glukosa Protein, albumin, globulin, fibrinogen, lipoprotein. 4. Mekanisme : Cairan dari pembuluh Cairan dari pembuluh Darah kejaringan sekitar Darah kejaringan sekitar Oleh karena peningkatan Oleh karena Permeabilitas Tekanan hidrostatik. Pembuluh darah yang meningkat. 5. Sel sel radang : Tidak Ada Ada. 3. Perubahan Sellulair : Disini terjadi migrasi sel lekosit ke lokasi radang melalui tahap : 1. Marginating : Adanya radang ,menimbulkan mediator kimia dalam aliran darah,sehingga sel darah merah ,menggerombol ditengah pembuluh darah dan membentuk ROULOUX dengan partikel yang besar, sedangkan sel darah putih akan menempati bagian tepi pembuluh darah selanjutnya bermigrasi ke jaringan sekitar. 2. Migrasi : Sel darah putih yang berada di tepi pembuluh darah akan bermigrasi kejaringan sekitarnya. Sel darah putih yang oleh keluar adalah : neutrophil, basophyl, cosinophyl, monosit, dan lymposit. 3. Kemotaksis : Yaitu pergerakan sel darah putih ke sekitar oleh adanya rangsangan kimia yang timbul sebagai akibat dari keradangan. 4. Aggregation : Yaitu berkumpulnya sel darah putih pada lokasi keradangan pada fase akut yang bergerak adalah PMN (PoliMorphoNuclear) yaitu: neutrophil, cosinophyl, basophyl. Pergerakan ini berlangsung cepat, dan bertahan hanya beberapa hari. Pada fase kronis yang bergerak adalah : monosit, limposit, dan macrophage. Pergerakannya berlangsung lambat, dan dapat bertahan bulanan bahkan tahunan. 5. Phagositosis : Artinya : memakan sel. Caranya : sel mendekati benda asing karena adanya rangsangan kimia dari benda asing tersebut. Benda asing akan di kelilingi sel, sehingga benda asing tersebut terjebak dalam kantong dan akhirnya di hancurkan oleh enzim – enzim sel darah putih. Setelah di phagosit kemungkinan yang terjadi adalah : sel hidup menjadi mati, atau tetap hidup dalam phagosit dan bertindak aktif sehingga sel darah putih / phagosit akan mati menjadi pus/nanah, atau benda asing tetap hidup dalam sel phagosit tetapi tidak aktif melainkan diam saja (DORMEN). Hal terakhir ini yang sering terjadi pada proses tuberculosis. Faktor – factor yang dapat merubah / mempengaruhi perjalanan suatu keradangan yaitu : 1. Faktor yang berasal dari penyebab keradangan : a. Virulensi (keganasan) kuman. Kuman ada yang virulen ada pula yang non virulen. Kuman tbc virulansinya tinggi, sehingga satu kuman pun telah dapat menyebabkan infeksi tbc. b. Lamanya rangsangan. semakin lama suatu rangsangan akan semakin besar kerusakan yang ditimbulkan. c. Besarnya rangsangan. Semakin besar rangsangan akan semakin besar pula kerusakan. d. Pathogenitas kuman. Pathogenitas kuman mempengaruhi jenis keradangan yang timbul. Misalnya : Kuman streptococcus, e.coli, dsb akan menimbulkan pus. e. Daya invasi kuman Daya invasi kuman akan menentukan parjalanan dari proses keradangan. 2. Factor – factor yang berasal dari penderita sendiri (host) : a. Faktor umum : umur, status gizi, kondisi tubuh/kesehatan, kekebalan/immunitas, penyakit yang menyertai (diabetes -> mudah infeksi), dan konsumsi obat obat yang mengandung steroid (dapat memberikan efek samping pada suatu keradangan).
b. Factor local : vaskularisasi dan lokasi keradangan. Pada jaringan yang padat keradangan akan lebih sukar terjadi di banding pada jaringan yang longgar, misalnya : pada paru paru (jaringan longgar) akan lebih mudah mengalami keradangan di banding pada jaringan parut/keloid (jaringan padat).

PEMBAGIAN KERADANGAN :
1. Menurut lamanya :
1. Akut : Suatu keradangan dimana perubahan yang nyata ialah perubahan vaskulair dan terbentuk eksudat. Tanda yang ada adalah kelima gejala radang (rubor, kalor, tumor, dsb).
2. Kronik (menahun) : Suatu keradangan dimana perubahan yang nyata adalah : proliferasi sel sel radang (radang proliferative). Tanda yang ada ialah terjadinya proliferasi sel sel jaringan disertai infiltrasi sel sel radang. Bila rangsangan berlanjut maka proliferasi sel sel jaringan juga berlanjut hingga akhirnya terbentuk jaringan parut (cicatrix).
3. Sub akut atau Sub kronik : keradangan diantara akut dan kronik.

II. Menurut eksudatnya :
1. Eksudat cair / serous : -> Keradangan serosa.
Disini exudat mengandung banyak air dan sedikit protein.
Misalnya : pericarditis, pleuritis.
2. Eksudat fibrin : -> Keradangan fibrinosa.
Disini exudat yang di hasilkan mengandung banyak protein dan fibrin.
Misalnya : pneumonia lobaris.
3. Eksudat lendir/ catar : -> Keradangan catar.
Disini keradangan terjadi pada tempat yang mengandung lendir, Misalnya : saluran nafas atas.
4. Exudat suppuratif = nanah : -> Keradangan suppuratifa.
Disini exudat yang dihasilkan berupa cairan kental berwarna kekuningan.
5. Exudat haemorrhagica : -> Keradangan haemorrhagica.
Biasanya bercampur dengan keradangan yang lain.
Misalnya : keradangan suppuratifa haemorrhagica.

III. Menurut Lokalisasinya :
1. Abses : Timbunan pus/ nanah yang bersifat local dalam ruangan pada jaringan/ organ, yang dalam keadaan normal ruangan tersebut tidak ada.
Cara terjadinya : kuman pyogenik masuk ke jaringan / organ, kemudian berkembang biak. Tubuh bereaksi sehingga terjadi migrasi sel lekosit ke tempat tersebut. Selanjutnya, karena toxin dari kuman maka jaringan / organ menjadi rusak. Timbunan sel jaringan yang mati dan sel lekosit yang mati beserta kuman kuman yang mati disebut: nanah/Pus.
2. Uleus : terjadinya kerusakan local pada bagian superficial jaringan / organ mengakibatkan terlepasnya sel sel yang rusak dan nekrotik, sehingga terbentuk Ulcus.
Misalnya : ulcus pada lambung.
3. Phlegmon : proses keradangan yang menjalar diffuse (merata) pada semua jaringan.
Misalnya : erysipelas.
4. Pseudo membran : Terbentuk membran yang terdiri dari : fibrin, ephitel rusak, dan sel sel radang. Biasanya terjadi pada permukaan organ.
Misalnya : pada Diphteri.

IV. Menurut Etiologinya :

Setiap agen penyebab keradangan akan menimbulkan keradangan yang khas, tergantung pada penyebabnya.
Misalnya : Kuman kuman pyogenik biasanya membentuk pus/nanah.
Kuman kuman salmonella biasanya menyebabkan radang yang diffusepada jaringan RES, sehingga terjadi pembesaran lien, limpa dsb.

PENYEMBUHAN :
yang berasal dari jaringan parenchyma atau stroma jaringan ikat.
Bila terjadi proliferasi dari sel sel parenchyma maka akan terjadi penyembuhan yang sempurna. Sedangkan bila yang terjadi proliferasi sel sel jaringan ikat, maka akan terbentuk jaringan parut (kelloid = scar).

Beberapa factor yang mempengaruhi proses penyembuhan adalah :

1. Factor umum : umur, status gizi, kelainan hematology yang ada (leukemia, hemorrhagic diathesis), immunitas (kekebalan), adanya penyakit kronis (diabet,dsb), dan hormonal (biasanya hormone supra adrenal seperti cortisone & hidrocortison yang bersifat anti radang).
2. Factor local : Suplai darah, ada tidaknya benda asing (missal : benang jahit), pendekatan tepi luka jenis jaringan yang terkena, lokalisasi(missal : pada tendon penyembuhan lebih lama di banding paru), mobilitas bagian yang luka, dan banyak sedikitnya jaringan yang rusak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar